Tag Archives: fengshui

Kawruh Kalang & Kawruh Griya : Fengshui ala Jawa

STRUKTUR RUMAH JOGLOSebagaimana kebudayaan (arsitektur) Romawi & Yunani yang mengenal ilmu “Proporsi & Skala”, atau kebudayaan China yang mempopulerkan ilmu Fengshui (Hongshui), sebenarnya kebudayaan kita (Jawa) pun mewariskan ilmu bangunan yang lazim dikenal sebagai Kawruh Kalang & Kawruh Griya.

Kawruh Kalang &  Kawruh Griya

Kitab Kawruh Kalang (ilmu tentang ruang)  berhuruf Jawa,  ditulis oleh pihak nDalem Kepatihan Solo (1882) pada zaman pemerintahan Susuhunan Paku Buwono IX (1861-1893). Kitab ini menguraikan soal kerangka bangunan, prinsip-prinsip ukurannya, hingga bahan yang seharusnya digunakan untuk rumah rakyat hingga rumah raja. Kitab ini terkesan sebagai “ buku pegangan teknis” praktisi arsitektur jaman itu. Sedangkan Kawruh Griya sebagai naskah yang terhadap awam merupakan perkanalan akan “lingkungan binaan” Jawa, sedangkan bagi para undhagi merupakan pengkayaan pengetahuan.

Isu-isu pokok perancangan yang harus disertakan dalam kehadiran Griya Jawa, yaitu: isu dhapur griya, guna griya, angsar/watak dan Petangan.

1. Dhapur Griya

Isu yang berhubungan dengan system struktur kerangkan bangunan serta dengan rupa bangunan. Ditinjau dari system struktur rangka batang , rangka gelagar struktur dari griya jawa disebut balungan, kerangka bangunan; sedangkan ditinjau dari bentuk atau rupa bangunan, rangkaian gelagar tadi disebut dhapur griya.

Terdapat 4 tipe dhapur griya, yaitu: Tajug, Juglo/joglo, Limasan dan Kampung (Bekuk Lulang).

Terhadap tampilan akhir ini, griya jawa memberikan sebutan yang tersendiri, dan semuanya diambil dari cirri-ciri manusia, yakni jaler-estri (lelaki-perempuan) atau enem-sepuh (muda-tua). Tampilan akhir yang cenderung berkesan meninggi atau menjulang dan ramping dikatakan sebagai penampilan yang jaler (lelaki) atau enem (muda), sedangkan yang merendah dan tidak ramping dikatakan sebagai estri (perempuan) atau sepuh (tua).

2. Guna Griya

Menurut Josef Prijotomo, Bangunan berarsitektur Jawa bermakna sebagai tempat berteduh. Ini berbeda dibandingkan bangunan berarsitektur Barat yang bermakna sebagai tempat berlindung. Karena itulah, bangunan berarsitektur Jawa bersifat terbuka atau tanpa sekat-sekat.

Pada arsitektur jawa tengah, penaung/peneduh muncul berupa empyak/payon. Kehadiran empyak/payon adalah melayani guna griya secara tertentu, yaitu:

  • Mengindikasi kekhususan griya. Dilakukan dengan petangan terhadap jumlah usuk, ketinggian empyak/payon yang menghasilkan volume ruang. Dalam hal ini, bukan lantai yang membentuk volume ruang, melainkan atap.
  • Empyak/payon melayani guna griya sebagai penaung/peneduh agar kegiatan dapat dilakukan dengan nyaman. Dalam hal ini tinggi-rendahnya atap menjadi penentu besar volume yang tercipta pada penaung/peneduh.

Disitu terbaca bahwa orang jawa mengandaikan rumah tinggal sebagai sebuah pohon rindang yang besar. Filosofi “Bernaung / berteduh” adalah aktivitas berjangka waktu sementara. Sesuai penghayatan orang jawa tentang hidup yang “saderma mung mampir ngombe”.

3. Petangan

Satuan ukuran dalam arsitektur Jawa memiliki ukuran sendiri, yang akan mempengaruhi angsar/watak dari bangunan (wastu citra?). Ada lima jenis hitungan. Pertama, hitungan sri, berarti sandang pangan. Kedua, kitri, harta benda. Ketiga, gana, yang berarti cukup. Keempat, liyu, atau kewibawaan. Kelima, pokah, atau ukuran yang bisa membuat lemas orang. Hitungan itu dalam bangunan diwujudkan dalam jumlah unsur bangunan. Misalnya ukuran kelima, yakni pokah dipakai pada bangunan yang juga dianggap perisai keraton. Misalnya Pagelaran, yang berada di batas antara alun-alun dan bagian keraton. Jumlah usuk dan tiang Pagelaran tentu merupakan kelipatan dari lima. Maka, bila ada yang bermaksud tak baik dan ingin masuk keraton, dan ia lewat Pagelaran, di sini kekuatannya akan susut. Contoh yang lain adalah Sitinggil, di belakang Pagelaran, yang dibangun dengan konsep liyu. Jumlah segala hal di sini merupakan bilangan kelipatan lima lalu ditambah empat. Liyu, yang berarti kewibawaan, maksudnya seseorang asing yang masuk ke sini akan terkena wibawa raja. Hingga, konon, orang itu akan merasa berada di bawah kekuasaan raja. Sedangkan untuk ukuran panjang, arsitektur tradisional Jawa memakai ukuran kaki. Ukuran ini diperoleh dengan cara dua jempol tangan disinggungkan ujungnya hingga membentuk garis lurus, dan jari-jari yang lain tegak lurus dengan empol. Satu kaki adalah dari ujung kelingking yang satu ke ujung kelingking yang lain Satuan panjang yang lain disebut tombak (I tombak = 12 kaki ) dan dim (I kaki = 12 dim ). Dan berapa kaki misalnya tinggi Pagelaran, dikembalikanlah pada kelipatan lima tadi, atau disebut hitungan pokah itu. Lalu, tangan siapakah yang dijadikan pedoman ukuran I kaki? Jawabannya singkat, tangan si pemilik bangunan.